Badan Intelijen Negara
<< September 2017 >>
MinSenSelRabKamJumSab
     12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
  • foto

    Indonesia Menjadi Tuan Rumah KTT IORA 2017

    Jakarta, (06/03/2017). Indonesia menjadi tuan rumah Konferensi Tingkat Tinggi Indian Ocean Rim Association (KTT IORA) yang digelar pada 5 hingga 7 Maret 2017 bertempat di Jakarta Convention Center (JCC).

Peluang dan Tantangan Bonus Demografi

Jakarta (18/09/2014)- Periode 2012 - 2045 Indonesia akan memperoleh bonus demografi, mengingat jumlah usia produktif mengalami peningkatan. Jika tidak diantisipasi dengan baik, akan menjadi malapetaka atau Demographic Disaster. Upaya strategis perlu dilakukan secara sinergis, sehingga manfaat secara ekonomi, politik, sosial dan budaya dapat diperoleh secara maksimal. Demikian sambutan Kepala BIN Letjen TNI (Purn) Marciano Norman yang disampaikan oleh Zaelani, Sekretaris Utama Badan Intelijen Negara dalam Pembukaan Dialog Publik tentang Peluang dan Tantangan Bonus Demografi Indonesia. Dialog Publik tersebut turut menghadirkan Kepala BKKBN, Prof. Dr. Fasli Jalal, PhD. SpOK, dan Pengamat Ekonomi, Prof. Dr.Ahmad Erani Yustika,SE, M.Sc. serta para pejabat eselon I, II dan III BIN, bertempat di Gedung Pertemuan Soekarno Hatta, Kompleks BIN, Jakarta Selatan.
 
Lebih lanjut Kepala BIN menegaskan bahwa, BIN akan mengawal periode bonus demografi sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya berdasarkan amanat Konstitusi. Beberapa kajian perlu disiapkan, bahkan untuk mempersiapkan periode angka ketergantungan terendah pada tahun 2029 - 2031.  
 
“Fenomena bonus demografi ini adalah sebuah sejarah yang sangat jarang terjadi, diproyeksikan tepat satu abad Indonesia merdeka atau tahun 2045, Indonesia akan mendapatkan manfaat positif jika bonus demografi ini dikelola dengan tepat.” kata Kepala BKKBN, Fasli Jalal.
 
Bonus demografi bisa menjadi malapetaka jika usia produktif tidak memperoleh kesempatan lapangan pekerjaan yang layak. Terlebih dengan perkembangan globalisasi mengakibatkan ketatnya persaingan kerja. Beberapa negara mengalami kegagalan dalam mengoptimalisasi bonus demografi. Oleh karena itu, diperlukan upaya untuk meningkatkan kualitas sumber daya secara optimal. 
 
“Berdasarkan pendapat beberapa perusahaan multinasional di Indonesia, pekerja Indonesia memiliki skill gab yang masih harus diperbaiki. Kelemahan tersebut diantaranya adalah penguasaan Bahasa Inggris, ketrampilan komputer dan sikap etos kerja tim maupun tekanan tinggi dalam pekerjaan,” tambah Ketua BKKBN.
 
Peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia harus dipersiapkan sejak dini. Mengingat fase perkembangan otak manusia, terutama pembentukan sel otak harus diinisiasi sejak dini. Sehingga dapat dengan mudah mencerna informasi dan mengolahnya secara positif. Selain itu, faktor kesehatan juga patut dioptimalkan terlebih untuk mengatasi fenomena Burden of Disease, yakni usia produktif yang tidak optimal karena gangguan kesehatan.
 
“Fenomena Burden of Disease mulai merambah di Indonesia, Penduduk usia 15 - 24 tahun mulai banyak dirampas waktu produktifnya karena persoalan tekanan mental dan masalah kecelakaan lalu lintas yang mencapai 1 Juta jiwa petahun,” Ujar Fasli Jalal.
 
Selain itu, good governance harus mengarah pada kebijakan yang mendorong peningkatan ekonomi yang dapat menciptakan lapangan pekerjaan. Pengelolaan APBN harus mengarah pada pembangunan ruang kerja, sehingga dapat menampung jumlah usia produktif yang mengalami peningkatan.
 
“Dalam perspektif ekonomi, Indonesia menghadapi beberapa isu yang patut diwaspadai yakni persoalan ekonomi, Masalah Energi, dan Perubahan Iklim. Isu tersebut masih berkaitan dengan laju pertumbuhan penduduk di Indonesia,” tambah Ahmad Erani Yustika
 
Persoalan bidang ekonomi adalah bagaimana membangun perekonomi dengan mensinkronisasikan antara konsep keadilan dan kesejahteraan. Hampir beberapa negara dunia gagal dalam mengawinkan dua konsep tersebut sebagai dua sisi keping mata uang. Saat ini pertumbuhaan ekonomi masih berpusat di Pulau Jawa. Sementara itu, Jawa sudah mengalami over capacity. 
 
Persoalan sektor energi adalah adanya peningkatan permintaan sumberdaya yang sangat drastis. Kebutuhan energi nasional saat ini 95% masing bergantung pada energi tak terbarukan. Diproyeksikan pada 2030 Indonesia akan mengalami peningkatan kebutuhan energi sebanyak 141 persen atau mengalami peningkatan hampir 1,5 kali lipat. Sementara itu, kemampuan produksi mengalami penurunan dan belum ditemukan sumber energi baru.
 
“Pertumbuhan ekonomi Indonesia lebih didominasi oleh sisi konsumsi yang mencapai 56%. Seharusnya pertumbuhan dapat didominasi oleh sektor Industri dan Pertanian sehingga Indonesia memiliki ketahanan ekonomi yang kuat guna menopang tinggi usia produktif,” kata Erani Yustika.
 
Untuk memanfaatkan bonus demografi ini, diperlukan langkah strategis diantaranya adalah mendorong aneka insentif perekonomi agar 75% belanja modal dipakai di luar Jawa, dan strategi pembangunan yang meletakkan kependudukan sebagai mainstream atau dasar kebijakan.
 
Peran serta masyarakat terutama pemerintah daerah juga patut dioptimalkan, terutama dalam mensosialisasikan potensi bonus demografi melalui program pemberdayaan yang baik. Beberapa kajian yang dilaksanakan seperti penyiapan kualitas Sumber Daya yang akan masuk angkatan kerja, penyiapan bidang kependudukan, ketenagakerjaan dan perekonomian.(*)