Badan Intelijen Negara
<< Oktober 2018 >>
MinSenSelRabKamJumSab
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031   
  • foto

    Solidaritas Pertemuan IMF-Bank Dunia untuk Bencana Alam di Indonesia

    Jakarta (9/10/2018)- Indonesia kembali mencuri perhatian dunia, untuk pertama kalinya menjadi tuan rumah IMF World Bank Group Annual Meetings 2018 (IMF-WBG AM 2018) yang akan dilaksanakan mulai tanggal 8-14 Oktober 2018 di Kawasan Nusa Dua, Bali. Pertemuan IMF-WBG AM 2018 mempunyai nilai strategis dan dapat dijadikan momentum bagi Indonesia sebagai middle-income country mampu menunjukkan kemajuan ekonomi dan kepemimpinan serta komitmen dalam penanganan isu-isu global. Di tengah persiapan penyelenggaraan perhelatan akbar tersebut, telah diwarnai dengan tragedi bencana alam dan tsunami yang menimpa daerah di Indonesia, khususnya Lombok dan Palu. Bencana gempa dan tsunami juga menjadi perhatian bersama penyelenggara baik dari pemerintah pusat maupun dari perwakilan IMF. Bentuk kepedulian ditunjukkan melalui aksi solidaritas terhadap bencana gempa yang diberi nama ‘Solidarity for Lombok’ tepat satu hari sebelum perhelatan dimulai.

Waspada Terhadap Pelecehan Seksual Pada Anak Usia Dini

Jakarta (20/7/2018)- Pelecehan seksual terhadap  anak  dibawah umur  kembali marak terjadi di Indonesia. Pelaku pelecehan seksual terhadap anak yang biasa disebut dalam bahasa ilmiahnya pedofilia atau pedofil karena memiliki kelainan psikoseksual. Kasus pelecehan seksual terhadap anak di Indonesia terus mengalami peningkatan secara signifikan dari tahun ke tahun. Tidak saja meningkat secara kuantitatif tapi juga secara kualitatif, dengan modus operasinya yang semakin tidak berperikemanusiaan. Dan yang lebih tragis lagi, kebanyakan pelakunya  merupakan orang yang berada di lingkungan keluarga atau lingkungan sekitar anak itu sendiri, seperti dalam rumahnya sendiri, sekolah, lembaga pendidikan, dan lingkungan sosial anak.

Jakarta (20/7/2018)- Berdasarkan data dari Kementerian Sosial di tahun 2017 kasus kekerasan serta pelecehan seksual pada anak meningkat dari 1.965 kasus di tahun 2016 menjadi 2.117 di tahun 2017. Meningkatknya kasus pelecehan seksual dari sisi negatif memang sangat membahayakan dan begitu mengawatirkan, akan tetapi dari sisi positifnya peningkatan tersebut dipandang merupakan suatu kemajuan karena, meningkatnya laporan kasus pelecehan seksual terhadap anak didorong oleh semakin beraninya seseorang untuk melaporkan kejadian pelecehan tersebut. Keberanian melaporkan kasus ataupun kejadian pelecehan seksual terhadap anak akan sangat membantu pemerintah untuk memerangi kejahatan seksual tersebut.

Kekerasan atau pelecehan seksual terhadap anak menurut End Child Prostitution in Asia Tourism (ECPAT) Internasional merupakan hubungan atau interaksi antara seorang anak dengan seorang yang lebih tua atau orang dewasa seperti orang asing, saudara sekandung atau orang tua dimana anak dipergunakan sebagai objek pemuas kebutuhan seksual pelaku. Perbuatan ini dilakukan dengan menggunakan paksaan, ancaman, suap, tipuan bahkan tekanan. Kegiatan-kegiatan kekerasan seksual terhadap anak tersebut tidak harus melibatkan kontak badan antara pelaku dengan anak sebagai korban. Bentuk-bentuk kekerasan seksual itu sendiri bisa dalam tindakan perkosaan ataupun pencabulan.

Pelecehan seksual terhadap anak memberikan dampak yang cukup fatal kepada anak sebagai korban. Tidak hanya akan berdampak pada fisik, namun yang lebih parah lagi dampak psikis yang dialami anak akan terus menghantui seperti rasa traumatis dan lainnya hingga dewasa. Dampak pelecehan seksual yang terjadi ditandai dengan adanya powerlessness, dimana korban merasa tidak berdaya dan tersiksa ketika mengungkap peristiwa pelecehan seksual tersebut. Tindakan kekerasan seksual pada anak membawa dampak emosional dan fisik kepada korbannya. Secara emosional, anak sebagai korban kekerasan seksual mengalami stress, depresi, goncangan jiwa, adanya perasaan bersalah dan menyalahkan diri sendiri, rasa takut berhubungan dengan orang lain, bayangan kejadian dimana anak menerima kekerasan seksual, mimpi buruk, insomnia, ketakutan dengan hal yang berhubungan dengan penyalahgunaan termasuk benda, bau, tempat, kunjungan dokter, masalah harga diri, disfungsi seksual, sakit kronis, kecanduan, keinginan bunuh diri, keluhan somatik, dan kehamilan yang tidak diinginkan.

Masih segar dalam ingatan kita, di awal tahun 2018, terungkap kasus pelecehan seksual oleh sang predator pedofilia terhadap 41 anak di bawah umur. Pelaku yang disebut sebagai predator pedofilia tersebut merupakan sosok yang dikenal sebagai guru dilingkungannya. Babe panggilan akrab dari pelaku mengaku melakukan aksi tersebut setelah 3 bulan ditinggal oleh istrinya yang menjadi TKW di Malaysia. Bermodus dengan iming-iming akan mengajarkan anak-anak ilmu  ajian semar mesem dan bisa mengobati orang sakit, Babe dapat menarik perhatian anak-anak untuk datang kepadanya. Anak-anak yang ingin mempelajari ilmunya diberi syarat tertentu, yaitu berupa mahar, karena anak-anak tersebut belum memiliki uang yang cukup membayar mahar maka Babe memberikan opsi mahar dapat diganti dengan syarat bersedia disodomi. Modus-modus pelecehan seksual yang mulai berfariasi seperti kasus Babe tersebut  menjadi perhatian khusus bagi para orang tua dalam mengawasi anak-anaknya.

Dalam melawan dan memerangi kejahatan seksual terhadap anak oleh para predator pedofilia, kepekaan keluarga serta masyarakat lingkungan harus lebih berperan aktif dalam mengawasi tingkah laku anak. Berikut terdapat beberapa tips atau kiat-kiat orang tua dan keluarga yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya pelecehan seksual terhadap anak, yaitu antara lain:
1.    Jangan berikan pakaian yang terlalu terbuka karena bisa menjadi rangsangan bagi tindakan pelecehan seksual;
2.    Tanamkan rasa malu sejak dini dan ajarkan si kecil untuk tidak membuka baju di tempat terbuka, juga tidak buang air kecil selain di kamar mandi;
3.    Jaga si kecil dari tayangan pornografi baik film atau iklan;
4.    Ketahui dengan siapa anak Anda menghabiskan waktu dan temani ia saat bermain bersama teman-temannya. Jika tidak memungkinkan maka sering-seringlah memantau kondisi mereka secara berkala;
5.    Jangan membiarkan anak menghabiskan waktu di tempat-tempat terpencil dengan orang dewasa lain atau anak laki-laki yang lebih tua;
6.    Jika menggunakan pengasuh, rencanakan untuk mengunjungi pengasuh anak Anda tanpa pemberitahuan terlebih dahulu;
7.    Beritahu anak agar jangan berbicara atau menerima pemberian dari orang asing;
8.    Dukung anak jika ia menolak dipeluk atau dicium seseorang (walaupun masih keluarga), Anda bisa menjelaskan kepada orang bersangkutan bahwa si kecil sedang tidak mood. Dengan begitu anak Anda belajar bahwa ia berwewenang atas tubuhnya sendiri;
9.    Dengarkan ketika anak berusaha memberitahu Anda sesuatu, terutama ketika ia terlihat sulit untuk menyampaikan hal tersebut;
10.    Berikan anak Anda waktu cukup sehingga anak tidak akan mencari perhatian dari orang dewasa lain.
Melihat cukup buruknya dampak yang dialami anak sebagai korban dalam kekeran atau pelecehan seksual oleh orang dewasa, maka perlunya peranan keluarga untuk melawan dan memerangi kejahatan seksual tersebut. Tidak hanya peranan dari keluarga saja, lingkungan masyarakat sekitar juga diharapkan meningkatkan kepekaan terhadap situasi lingkungan anak anak bermain agar meminimalisir terjadinya kasus-kasus pelecehan seksual terhadap anak di usia dini.
Terjalinnya kerjasama dari yang terkecil di lingkungan keluarga, masyarakat serta pemerintah dalam memerangi dan melawan tindakan kekerasan dan pelecehan seksual terhadap anak usia dini, maka akan menciptakan kondisi yang aman, damai dan bersaja dalam proses tumbuh kembang si anak. (*/disarikan dari pelbagai sumber)