Badan Intelijen Negara
<< November 2017 >>
MinSenSelRabKamJumSab
   1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  
  • foto

    Indonesia Menjadi Tuan Rumah KTT IORA 2017

    Jakarta, (06/03/2017). Indonesia menjadi tuan rumah Konferensi Tingkat Tinggi Indian Ocean Rim Association (KTT IORA) yang digelar pada 5 hingga 7 Maret 2017 bertempat di Jakarta Convention Center (JCC).

Jelang Idul Fitri, Waspadai Peredaran Uang Palsu

Jakarta (15/06/2017)- Jelang Hari Raya, biasanya masyarakat disibukkan dengan kegiatan penukaran uang sebagai bentuk tradisi pembagian THR khususnya untuk anak-anak. Sudah pasti, masyarakat membutuhkan sejumlah uang pecahan tertentu dalam jumlah banyak.  Kebutuhan akan penukaran uang kecil inilah yang dapat dimanfaatkan orang tidak bertanggungjawab untuk mengedarkan uang palsu. Oleh karena itu, masyarakat harus waspada dan hati-hati dalam menukarkan uang pecahan kecil.  Disarankan menukar uang pecahan kecil di tempat penukaran uang resmi yang ditunjuk Bank Indonesia (BI).

Peredaran  uang palsu sampai dengan pertengahan tahun 2017  masih terbilang rendah, pernyataan tersebut disampaikan Suhaedi selaku Direktur Eksekutif Departemen Pengelolaan Uang. Bagi sejumlah kalangan, informasi tersebut dinilai sebagai kabar menggembirakan, karena pada tahun sebelumnya sempat diberitakan peredaran uang palsu masuk kategori mengkhawatirkan. Data yang masuk  sampai dengan akhir Mei, temuan uang palsu yang beredar  rata-rata sekitar 3 lembar per Rp 1 juta.  Namun, pihaknya tidak memungkiri masih terjadi peredaran uang palsu terutama di pos tidak resmi, seperti tukang calo yang berada di pinggir jalan, untuk itu diharapkan masyarakat agar dapat mengantisipasi peredaran uang palsu. 

Sosialiasi perbedaan uang palsu dan asli harus kembali digalakkan melalui berbagai media online dan sosial media dalam rangka mengedukasi masyarakat agar dapat membedakan mana uang asli dan uang palsu.  Untuk itu, metode rumus 3D yaitu dilihat, diraba dan diterawang merupakan cara mudah masyarakat mengenali uang asli atau palsu. Metode “melihat” dimaksud melihat warna uang lama maupun baru, uang palsu memiliki warna yang pucat kusam dan luntur apabila terkena air. Sedangkan “diraba”, ada bagian tertentu dibuat agak kasar dan beberapa lagi bisa berubah warna kalau dilihat dengan kemiringan tertentu. Metode terakhir metode “diterawang” dimaksud apakah watermark gambar, bentuk masih terlihat atau tidak, pada uang palsu watermark tidak ada dan tidak terlihat. 

Masyarakat juga harus turut serta aktif membantu Bank Indonesia dengan memilih penukaran ditempat resmi yang ditunjuk dan disediakan. Hindari penggunaan jasa penukaran tidak resmi seperti di pinggir jalan, karena setiap uang asli bisa disisipi lembaran uang palsu ketika hendak menukarkan uang.  

Oleh karena itu, masyarakat harus mempunyai bekal pengetahuan yang cukup untuk dapat membedakan uang asli atau palsu serta teliti sebelum menerima uang  terutama bagi warga masyarakat yang tinggal di Pulau Jawa dan Bali, karena kedua pulau tersebut mempunyai risiko transaksi uang palsu paling tinggi dibandingkan pulau lainnya. Tidak kalah penting apabila masyarakat menemukan adanya uang palsu didaerahnya, segera melaporan kepada petugas terdekat untuk segera dilakukan penindakan. (*)