Mewaspadai Kejahatan pada Mudik Lebaran
(Jakarta, 14/08/2012) - Hari Raya Idul Fitri selalu disertai dengan tradisi mudik. Mudik lebaran menjadi mobilitas massal tahunan, sehingga kegiatan massal terpusat di sentra-sentra keramaian, seperti terminal, stasiun, pelabuhan, pasar, pertokoan dan pusat keramaian lainnya. Situasi hiruk-pikuk massal yang mewarnai tradisi mudik lebaran, serta merta dimanfaatkan oleh para pelaku kejahatan untuk beroperasi dengan berbagai modus. Salah satu modus instan yang sering terjadi di pusat keramaian adalah dengan menggunakan gendam dan pembiusan melalui minuman/makanan. Modus ini cepat dan efektif hasilnya, serta dinilai aman operasinya. Korban yang umumnya masyarakat awam pun, sangat terbatas memiliki informasi tentang kejahatan dengan modus seperti itu.
Gendam adalah kejahatan penipuan yang menggunakan metode hipnotis (hypnosis). Awam mempercayai praktek gendam menggunakan ilmu hitam atau magic atau sihir. Padahal secara teknis, gendam merupakan salah satu atau gabungan dari teknik shock induction , ericksonian hypnosis, dan mind control (telepati, magnetism) yang termasuk dalam metode hypnosis modern yang sudah dikenal di dunia barat. Dengan gendam inilah korban mudah diperdaya oleh pelaku kejahatan, sehingga dibawah kesadarannya barang-barang milik korban berpindah tangan tanpa kekerasan phisik.
Selain gendam, modus pembiusan juga kerap terjadi. Pelaku biasanya beraksi di tempat yang ramai kemudian mengajak bicara calon korban. Setelah merasa akrab, pelaku menawarkan minuman kaleng atau makanan yang sudah diberi obat tidur. Begitu korban tidak sadar, maka pelaku kejahatan itu merampas barang-barang milik korban dengan leluasa tanpa kekerasan phisik. Kejahatan seperti ini kembali mengambil sasaran masyarakat awam, yang mempertaruhkan hasil kerja di kota untuk lebaran di kampung.
Mengantisipasi kejahatan dengan modus gendam dan atau pembiusan, berikut ini tips dan trik untuk menghindari kejahatan tersebut :
- Percaya dan yakin sepenuhnya bahwa kejahatan hipnotis tidak akan mempan kepada orang yang menolaknya, karena seluruh proses hipnotis adalah proses œself hypnosis (kita mensugesti diri sendiri) dimana rasa takut kita dimanfaatkan oleh penggendam.
- Curigalah pada orang yang baru anda kenal dan berusaha mendekati anda, karena seluruh proses hipnotis merupakan teknik komunikasi yang sangat persuasif.
- Waspadalah terhadap orang yang menepuk anda dan hindari dari percakapan yang mungkin terjadi. Ketika anda fokus pada ucapannya, pada saat itulah sugesti sedang dilontarkan. Segeralah pindah dari tempat itu dan alihkan perhatian anda ke tempat lain.
- Sibukkan pikiran anda dan jangan biarkan pikiran kosong pada saat anda sedang sendirian di tempat umum, karena pada saat pikiran kosong, bawah sadar terbuka sangat lebar dan mudah untuk tersugesti.
- Waspadalah terhadap rasa mengantuk, mual, pusing, atau dada terasa sesak yang datang tiba-tiba secara tidak wajar, karena kemungkinan saat itu ada seseorang yang berusaha melakukan telepathic forcing kepada anda. Segera niatkan untuk membuang seluruh energi negatif tersebut ke bumi, cukup dengan cara visualisasi dan berdoa menurut agama dan keyakinan anda.
- Bila ada orang yang memiliki kebiasaan latah, usahakan agar kalau bepergian ditemani oleh orang lain, karena latah adalah suatu kebiasaan membuka bawah sadar untuk mengikuti perintah. Usahakanlah untuk menghilangkan kebiasaan latah tersebut.
- Hati-hati terhadap beberapa orang yang tiba-tiba mengerumuni anda tanpa suatu hal yang jelas dan pergilah ke tempat yang ramai atau laporkan kepada petugas keamanan. Kadang penggendam melakukan hipnotis secara berkelompok, seolah-olah saling tidak mengenal.
- Jika anda mulai merasa memasuki suatu kesadaran yang berbeda, segeralah perintahkan diri anda agar sadar dan normal kembali, dengan meniatkan, "Saya sadar dan normal sepenuhnya!" Dan andapun akan sadar dan normal kembali.
- Jangan mudah percaya kepada orang yang sama sekali yang belum anda kenal dan jangan mudah menerima makanan atau minuman kaleng dari orang lain
Kerawanan lain yang perlu diwaspadai masyarakat adalah kejahatan pencurian dan bahaya kebakaran. Rumah yang ditinggalkan penghuninya mudik lebaran, rawan disatroni pencuri dan rawan bahaya kebakaran. Kewaspadaan lingkungan melalui pengamanan swakarsa, menjadi upaya efektif untuk mengantisipasi kejahatan pencurian dan bahaya kebakaran di pemukiman penduduk. (*/Dari berbagai sumber).

